Siswi SDN 1 Margakaya Meninggal Usai Ikut Kegiatan Pramuka, Keluarga Nilai Pengawasan Lalai dan Informasi Tidak Transparan

Siswi SDN 1 Margakaya Meninggal Usai Ikut Kegiatan Pramuka, Keluarga Nilai Pengawasan Lalai dan Informasi Tidak Transparan

Penayasa
Jumat, 12 Desember 2025

Penayasa.id, Pringsewu, Lampung — Ungkapan duka dan kemarahan seorang ibu di Kabupaten Pringsewu viral di media sosial setelah putrinya yang berusia 12 tahun, Aisya Aqila Fazila atau akrab disapa Zie, meninggal dunia satu hari setelah mengikuti kegiatan Pramuka di SDN 1 Margakaya.


Peristiwa itu terjadi pada 22 November 2025 sekitar pukul 10.00 WIB, saat Zie mengikuti kegiatan pramuka yang digelar di area perbukitan di belakang sekolah.

 Dari informasi yang dihimpun, korban terjatuh dari lereng tebing setinggi hampir sepuluh meter, yang posisinya cukup jauh dari titik pengawasan guru.


Informasi lapangan menyebut kegiatan tersebut diikuti puluhan siswa, namun hanya diawasi oleh enam guru pembina. Situasi itu membuat sejumlah area kegiatan tidak terpantau sepenuhnya, terutama jalur naik-turun bukit yang cukup terjal bagi anak-anak sekolah dasar.


Seorang pembina yang diwawancarai wartawan pada 11 Desember mengakui bahwa lokasi jatuhnya Zie berada di area yang tidak terlihat dari jalur utama kegiatan.
"Posisinya itu muter jauh dan tidak kelihatan dari tempat kami," ujarnya singkat.


Pernyataan tersebut menjadi indikasi lemahnya pengawasan saat kegiatan berlangsung, apalagi medan yang dilalui termasuk berbahaya untuk anak usia sekolah dasar.

Ibu Korban Sudah Melarang Anaknya Ikut Kegiatan Luar Sekolah
Ibu korban, Nia, mengungkapkan bahwa ia berkali-kali meminta pihak sekolah agar putrinya tidak diikutsertakan dalam kegiatan luar kelas, termasuk pramuka, karena kondisi kesehatan Zie yang sering menurun.

"Saya sudah bilang berulang kali, tolong Zie jangan diikutkan kegiatan luar. Tapi kok masih saja dia diajak ikut," ujar Nia.


Ia juga menyayangkan sikap salah satu guru yang sebelumnya sudah ia titipi pesan tersebut.


Kesaksian dua siswa yang berada satu regu dengan Zie turut memperkuat dugaan kelalaian.

Mereka mengaku sudah melaporkan kondisi Zie sesaat setelah melihat korban terjatuh. Namun laporan itu tidak segera ditindaklanjuti.

"Kami sudah bilang Zie jatuh, tapi gurunya cuma bilang ‘sebentar’ dan tetap menulis nilai," kata seorang siswa.

Baru setelah disampaikan ke guru lain, kondisi Zie diperiksa, namun waktu telah berlalu cukup lama.


Keluarga mengaku kecewa karena saat tiba di klinik tempat Zie pertama kali diperiksa, mereka tidak mendapat penjelasan detail mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Keluarga hanya diberi keterangan bahwa Zie “terpleset karena lemas” tanpa penjelasan mengenai jatuh dari tebing atau kondisi luka yang dialami.


"Kami datang ke klinik, tapi tidak diberi informasi apa pun. Hanya dibilang anak kami lemas dan tidak sarapan. Tidak ada kejujuran sejak awal," tegas nenek korban.
Keluarga juga mengaku kesulitan menghubungi para guru setelah kondisi Zie memburuk di rumah.
"Kami telepon tidak ada satu pun yang menjawab. Seolah-olah mereka menghindar," kata Nia.



Sehari setelah kejadian, kondisi Zie memburuk hingga pingsan. Korban dilarikan ke RS Mitra Husada, namun tidak dapat diselamatkan.


Kabar meninggalnya Zie memicu reaksi luas dari publik. Banyak warganet menilai kurangnya transparansi sejak awal membuat penanganan medis menjadi terlambat.


Keluarga kini berharap kejadian ini tidak ditutup-tutupi. Mereka meminta pihak sekolah, pembina pramuka, dan dinas pendidikan memberikan penjelasan terbuka dan bertanggung jawab.
"Kami hanya ingin keadilan. Jangan ada lagi anak-anak yang jadi korban kelalaian. Guru dan pihak yang dari awal tidak jujur harus diberi sanksi tegas," tegas Nia.


Keluarga masih berkoordinasi dengan penasihat hukum untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk upaya hukum jika diperlukan.
"Kami masih dalam duka. Tapi cara dinas menanggapi kami juga sangat menyakitkan. Mereka bertanya, ‘Mbak Nia mau minta keadilan yang seperti apa?’ Itu membuat kami semakin kecewa," tutupnya.