PRINGSEWU — Semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa di lingkungan RT 08/RW 02, Desa Tegalsari, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.
Dalam karnaval yang digelar di Lapangan SDN 1 Tegalsari, Minggu (16/8/2026), warga RT 08 tampil dengan mengusung tema Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak hanya menampilkan kostum dan berbagai properti, warga juga menyelipkan drama bernuansa humor dan satire sosial.
Penampilan tersebut menjadi hasil dari persiapan panjang yang dilakukan secara gotong royong. Warga mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak hingga anak-anak ikut mengambil bagian dalam mempersiapkan karnaval.
Sebelum tampil, ibu-ibu dan anak-anak rutin berlatih drama serta yel-yel. Dialog dan gerakan dalam drama diulang berkali-kali hingga mendapatkan alur yang sesuai.
Suasana latihan pun tak selalu serius. Kesalahan dialog, gerakan yang keliru hingga peserta yang tidak mampu menahan tawa justru membuat proses persiapan semakin meriah.
Di sisi lain, ibu-ibu turut mempersiapkan kostum dan berbagai properti. Ada yang menjahit, menggunting, mengecat, mencari bahan hingga merapikan perlengkapan peserta.
Sementara bapak-bapak ikut turun tangan membuat salah satu properti utama, yakni mobil MBG yang digunakan untuk memperkuat konsep rombongan karnaval.
Berbagai properti lainnya juga disiapkan, mulai dari atribut bertema MBG, perlengkapan drama, hiasan barisan hingga properti berukuran besar.
Saat rombongan tampil, seluruh persiapan tersebut kemudian menyatu dalam satu pertunjukan yang meriah.
Satire MBG Dikemas Lewat Drama
Tema MBG menjadi salah satu daya tarik penampilan RT 08. Isu program pemerintah tersebut dikemas warga melalui drama dan humor agar mudah diterima masyarakat.
Salah satu adegan yang menarik perhatian adalah ketika para pemain menggambarkan seolah-olah mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang dalam cerita dibuat tidak layak.
Adegan tersebut berlangsung secara komedi. Satu per satu pemain memegangi perut hingga tumbang dan membuat pemain lainnya panik.
Penonton pun dibuat tertawa melihat adegan tersebut.
Warga menegaskan, adegan keracunan itu merupakan bagian dari drama fiktif dan bukan kejadian keracunan yang sebenarnya.
Melalui satire tersebut, warga ingin menyampaikan harapan agar program yang diperuntukkan bagi masyarakat benar-benar menyediakan makanan yang bergizi, aman, higienis dan layak dikonsumsi.
Pesan sosial itu disampaikan tanpa menyasar pihak tertentu, melainkan sebagai bentuk kritik dan harapan masyarakat terhadap pelaksanaan program pemerintah.
Dari Warga untuk Warga
Salah satu koordinator kegiatan RT 08/RW 02 mengatakan, seluruh penampilan tersebut merupakan hasil kerja bersama warga.
“Kami mempersiapkannya bersama-sama. Ibu-ibu dan anak-anak berlatih drama dan yel-yel, ibu-ibu juga banyak membantu membuat kostum serta berbagai properti. Bapak-bapak ikut bekerja membuat mobil MBG dan menyiapkan perlengkapan lainnya. Jadi, ini benar-benar hasil kebersamaan warga RT 08,” ujarnya.
Menurutnya, proses persiapan memang membutuhkan tenaga dan waktu. Namun, kegiatan tersebut justru menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga.
“Ada capeknya, ada pusingnya, ada salah-salah saat latihan, tetapi lebih banyak ketawanya. Kami ingin semua warga merasa terlibat. Anak-anak senang, ibu-ibu senang, bapak-bapak juga ikut turun tangan. Bagi kami, kebersamaan seperti ini yang harus dipertahankan,” katanya.
Terkait pemilihan tema MBG, ia mengatakan warga ingin menyampaikan pesan sosial dengan cara yang ringan.
“Kami membawa MBG karena ini isu yang dekat dengan masyarakat. Pesan kami sederhana, program untuk rakyat tentu harus memberikan manfaat untuk rakyat. Makanan harus bergizi, aman, layak, dan tepat sasaran. Kami sampaikan lewat drama supaya tidak kaku. Kalau masyarakat bisa tertawa sekaligus menangkap pesannya, itu sudah membuat kami senang,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah ikut membantu selama proses persiapan.
“Terima kasih untuk seluruh warga RT 08. Yang latihan, yang membuat kostum, yang membuat properti, yang membuat mobil MBG, yang mengurus anak-anak, yang menyiapkan yel-yel, sampai yang mungkin tidak terlihat tetapi ikut membantu dari belakang. Semua punya jasa. Hari ini kita berdiri bersama sebagai RT 08,” ungkapnya.
Bagi warga RT 08, karnaval tersebut bukan sekadar ajang perlombaan antar-RT. Proses persiapannya menjadi ruang bagi warga untuk saling membantu, bercanda dan bekerja bersama.
Ketika kostum dilepas dan seluruh properti kembali disimpan, yang tersisa adalah pengalaman dan kenangan tentang bagaimana warga satu lingkungan mampu menyatukan tenaga untuk menghasilkan sebuah pertunjukan.
Semangat itulah yang kemudian menjadi pesan utama penampilan RT 08/RW 02 Tegalsari: karnaval bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana warga bisa berkumpul, bergotong royong dan merayakan kemerdekaan bersama.
Komentar